Group: Administrator Level:
Posts: 41 Joined: 4/25/2006 IP-Address: saved

| Geraham Tua Dalam Dendam
Pagi itu gigi grahamku terjatuh pada ronggga-rongga kedua mulutku yang masih terus saja terkatup mengalunkan sebuah lagu dengus yang takkan pernh terdengar sebelumnya. Mataku dimerahkan oleh sinar matahari malam di sudutkan oleh cahaya bulan. Gelembung napasku di bagi separuh untuk mu waktu. Keremajaan ku telah berakar dan tertanam pada lahan yang luasnya tak lebih dari sebuah poci. Yang setiap habis dituang tak terasa hilang sebuah dahaga. Mimpiku…dibiarkanlah teruai agar terus tumbuh memanjang hingga bisa ku rangkai dua menjadi dua ikatan tali yang memang dulu pernah kusuka darimu. Biarlah, sebuah oleng, memenuhi kerak dalam otakku, memenuhi kantung-kantung pikiranku yang memang tidakkan pernah kututup. Oohhhhh,…..Sakit sekali kini grahamku, kutinju dengan pukulan martil membuat berjatuhan semua mimpi, sedangkan engkau tertawa, menginjak permadani hatiku, bercanda dipelabuhan hasratku. Senyummupun takkan sanggup menghentikan geraham walau hanya sekejap. Kasihannnn…..Uban pada mimpi, seperti harimau yang kehilangan lorengnya lalu malu berselimbut pada daun-daun-daun seperti bercinta…ataukah aku?, Oh..oh…oh.. suara desah napas tertahan seakan melepaskan semua keakuanya dalam rongga-rongga iga, lalu aku terdiam diam ,diam. Lalu muncul sebuah anuku dalam kepala dan diatas kepala lalu dibiarkan tumbuh seperti ilalang yang tumbuh bebas bergerak menjalar menuju sejuta arah..lalu bergerumbul seperti biri-biri tapi tak halus. Punyaku kasar tapi bersisik. selalu membuat jiwaku ku lemah dan terpedaya. Setiap waktu, hingga jilatan mu selalu menbuat api, di mata.. hatiku. Mataku ditumbuk beribu macam dan beribu ribu macam tentang, sepenggal perjalanan hidup yang tertunda, Akhir, selalu menjadi buah mimpiku sayang…. Selalu menemaniku baik, dalam tidur hanya sayang dia takut mandi sehingg selalu sembunyi di kepagian, lalu aku terbangun sendirian seperti biasa. Gerahamku akhirnya berhenti gemerutuk, karena telah terpisah antara langit dan tanah, sisa-sisanya tinggal puing-puing kecil lambang kebesaran yang tertinggal. Perisai-perisai cuma menjadi benteng tua setengah kusam terbakar, amarah yang tak terbendung. Mataku kini tak merah lagi, menudut lagi, semuanya kelam dan kulihat sinar remang gelap, tangannku, meraih , lalu, aku terbuang dalam lembah….?
|