Group: Administrator Level:
Posts: 41 Joined: 4/25/2006 IP-Address: saved

| Menatap Danau Air Mata
kesibukan jam kerja masih mengepung, mendirikan jeruji-jeruji keseharian diantara meja yang menghunus pisau dan nyala komputer yang membakar kebebasan, lepas mengusung bara peradaban menuntut perbedaan jari lewat berita yang terus mengucur deras. aku baru saja menepis air mata yang pecah dikepala, ketika tiba-tiba kuasa bumi menggetarkan kaca-kaca panorama, malam bergelombang di sela-sela kantuk lampu, jalan-jalan terbelah kesumat semesta mengangakan suara kematian. kemudian angin berpesta menampar kerapuhan gedung-gedung ombak pesisir menggerus kota sedang nina, yani dan Diana mabuk dermaga suara telepon jadi keperihan kabel-kabel mengirimkan surat gempa yang berloncatan di udara, hingga darah mengalir dari menara menelusuri bencana, menyodorkan kerangka malapetaka tiada berbanding, kelelapan jadi perhitungan nasib tergadai
bagai menatap danau air mata kita hanya bisa mengail perih, melempar jala kepasrahan sembari mengayuh kebimbangan sampah ''tolong kirimkan ayah atau ibu'' pekik surat kawat yang berhampiran ''sekarang vera perlu di lawat, menik sedang sekarat tanpa melati ismani sudah jadi kamboja pekan ini!'' lagi-lagi kesenyapan bergentayangan membawa-bawa dendam cuaca menyodorkan siluet perih melanda dada sampai langit kepedihan mengucurkan gerimis berdarah ''jangan biarkan kerinduan jadi kurusetra aku pandawa kehilangan keluarga'' lambat laun sejarah menimbun legenda membebaskan ribuan situs membangun keluguan dongeng-dongeng O, disini, di atas tanah berhala, keruntuhan melayu masih jadi gerhana
Bohemian Jambi, 9 Juni 2000
|