SearchSearch CalendarCalendar GalleryGalleryAuction-PortalAuctions GlobalGlobal Top-ListTopMembersMembers StatisticsStats
get your RSS-Feed
Language/Sprache:  Admin  
 Login: ChatChat (0) new User-MapUser-Mapsend Passwordsend Password RegisterRegister

Forum Overview » Galeri Cybersastra » Ari Setya Ardhi » Merasuki Kegelisahan Badai
Pages: (1) [1] »
Registration necessaryRegistration necessary
Merasuki Kegelisahan Badai
cybersastrano Access no Access first Post cannot be deleted -> delete the whole Topic 
Group: Administrator
Level:


Posts: 41
Joined: 4/25/2006
IP-Address: saved
offline


Merasuki Kegelisahan Badai

(: desy ratnasari)

setelah puas menatap kemolekan derita,
aku menghempaskan batu ke dasar karang
melumat-lumatkan tubuh laut dan merekahkan
sauh itu lepas dari kekukuhan dermagamu.
kemudian ombak mengalir menggusur
angin, menggemertapkan debar pantai
diantara kepasrahan pasir yang mengobok-obok
darah pelabuhanmu
o, petir samudra tercipta bersama
kemabukanku, deras menepikan
kegelisahan badai yang tertata dalam
setiap debur darahmu
disini, aku menatap alur di dadamu
meniupkan beliung segenap kerapuhan nasib
melepas deru yang menantang
jangkarmu, membiaslepaskan topan
menggelegar, mengepung buih
peperangan menjemputmu. aku menampias
gelombang memecahi keutuhan pantai sukmamu

bagai merasuk kegelisahan badai
di ladang benakmu, kucari, kutelusuri
panorama candu yang terlanjur membius
usiamu. kita terkurung ketersesatan yang
terombang-ambing perseteruan nasib. mengukur
ombak yang pecah dalam pusaran kepala,
masih juga kau berkhayal
menempuh batas cakrawala. kemudian
menguakkan gerbang pertentangan sembari
memasrahkan harapan buat mayat.
ah, kita adalah keranda yang sama-sama
memahat impian keabadian

merasuki kegelisahan badai,
telah kau tempuh penyesalan
lewat gemerlap purnama kedukaan
melewati pengingkaran sumpah matahari
hingga embun pecah dari kebeningan matamu
meneteskan keperihan pagi sepanjang telaga,
hingga janji rembulan mengangakan
keluasan medan laga,
kemudian sangit bara melemparkann mesiu
yang disambut dengan keputusan gerhana.
Maka, aku menghitung langit yang berkeliaran,
mempertegas guratan mendung paras mungilmu,
mega berkabut terlanjur menguras air mata
''jangan biarkan gemerlap kota menenggelamkanmu,''
angkasa nuraniku berkibas, menepis pelangi
yang diberkaskan hujan
''namun cahaya terlanjut mengulitiku. kerinduan
seakan-akan takaran usia yang menyodorkan cinta
sekedar keharusan. aku bukan rusuk Adam,''
tiba-tiba seja meringkus malam, rembulan terpanggang
diantara keganasan angkasa. panas
bertahta, siluet kian meraja. lalu, silau cahaya
berbinar beban, membakar jasad tanahmu.
''simpan saja bagian keabadian masa lalu
dalam agenda tak terbaca karena kepapaan itu
harus dilunaskan sebatas usia ?'' bumi senyap menyambutmu,
mengangakan bias kelahiran yang terus
mencari misteri reinkarnasi

Bohemian Jambi 18 Juni 2000


4/25/2006 5:36:06 PM   
Registration necessaryRegistration necessary
Pages: (1) [1] »
all Times are GMT +1:00
Thread-Info
AccessModerators
Reading: all
Writing: User
Group: general
none
Forum Overview » Galeri Cybersastra » Ari Setya Ardhi » Merasuki Kegelisahan Badai

.: Script-Time: 0.031 || SQL-Queries: 7 || Active-Users: 4,235 :.
Powered by ASP-FastBoard HE v0.8, hosted by cyberlord.at